Kamis, 19 Oktober 2017

# Personal Story # Traveling

Pilihan Nekat Menjalani Solo Traveling

“Life begins at the end of your comfort zone” – Neale Donald Wlasch

Apa yang paling sulit dari melakukan sesuatu? Menurutku itu adalah sebuah momen pertama kita memutuskan untuk memulai. Ya, sama halnya dengan menjalani hidup menjadi seorang solo traveler sebenarnya sudah lama aku pikirkan. Tapi pada saat itu, aku terlalu banyak pemikiran A, B, C dan D yang kemudian hanya sebatas wacana kala itu. Terkadang kita merasa puas atas pencapaian yang sudah pernah kita dapatkan sebelumnya seperti gaji yang cukup, pengalaman mengikuti organisasi semasa kuliah, kegiatan volunteering atau bahkan IPK tinggi (untuk masalah IPK sih aku merasa biasa – biasa saja toh punyaku pun tidak cumlaude haha) sehingga lupa untuk “mengasah diri kembali”. Padahal proses belajar itu harusnya dilakukan seumur hidup di sebuah sekolah yang bernama kehidupan.




Momen terberat yang harus aku hadapi tahun ini adalah tidak pulang ke Lampung untuk merayakan Idul Fitri dan berkumpul bersama keluarga inti. Melainkan aku harus tetap berada di perantauan karena ada beberapa urusan yang harus aku selesaikan. Kala itu aku memang tengah berada di Yogyakarta untuk waktu yang cukup lama. Berat rasanya berpisah dengan orang - orang terkasih yang biasanya tidak pernah absen di momen hari raya. 

Sejak kecil sebenarnya aku ingin merasakan lebaran di kota yang terkenal akan panganan khasnya berupa bakpia dan gudeg itu yang merupakan kampung halaman dari almarhum bapak. Manusia boleh berencana namun Tuhan yang menentukan. Bapak sudah keburu dipanggil oleh Yang Maha Kuasa sebelum sempat membawa kami sekeluarga merasakan lebaran di tempat ayahku menghabiskan masa kecil hingga remajanya dulu. Tetapi untungnya, ada sepupuku yang cukup dekat denganku juga akan menghabiskan waktu lebaran di Jogja dan budeku berjanji akan mengenalkanku dengan beberapa saudara jauh kami yang masih tinggal di Jogja. Rasa haru kemudian menyelimuti perjalananku kala itu dimana aku banyak mendengar kisah hidup beliau semasa hidup. 

Tak lama setelah beberapa hari usai lebaran, sepupuku beserta keluarga (pakde, bude, saudara ipar dan keponakanku) kembali ke Lampung. Otomatis, aku kembali "sendirian" dalam melanjutkan perjalanan. Setelah sebelumnya sempat bertemu untuk reuni dengan teman kuliah, aku lalu pergi ke Jombang untuk memulai solo traveling kembali yang juga aku tulis disini . Disana, lagi - lagi aku ketemu orang baik yaitu Vinta, temanku kuliah dulu. Jujur, awalnya ada rasa sungkan tinggal di rumah temanku di Jombang tetapi alhamdulilah ternyata aku disambut hangat oleh keluarganya. (Terima kasih Vinta!)



Bagian terpenting dari perjalanan solo traveling ini adalah perpindahan dari satu tempat ke tempat lain yang kemudian juga menuntutku untuk segera cepat beradaptasi dengan lingkungan dan situasi yang baru. Aku pun jadi bisa memahami diriku secara lebih dalam dan berubah menjadi versi lebih baik atas kemauanku. Secara tidak langsung mungkin tanpa kalian sadari, semakin dewasa terkadang lingkungan mendorong atau yang lebih parahnya memaksa kita menjadi pribadi yang bukan seperti kemauan kita. Hal itu tidak lain karena agar kita terlihat "benar" di mata mereka padahal jauh di lubuk hati, kita hanya berusaha untuk menyenangkan orang lain tepat seperti apa yang mereka pikirkan.

Selain itu, aku pun menjadi terbiasa untuk memulai percakapan dengan orang asing. Dulu, aku agak susah untuk melakukan ini karena mungkin sedikit ada rasa sungkan, malu atau bahkan gengsi. Tetapi sekarang semua itu perlahan terasa mudah dan menyenangkan :) Entah ketika aku menyapa seseorang di kereta, bus, gojek atau ibu - ibu penjual warung yang jadi teman ngobrolku. Bersyukur selalu ada orang baik yang aku temui di setiap perjalanan yang tanpa sungkan membantu. Ya semua ini kusadari adalah titik awal kenekatanku untuk berani mendobrak tembok ketakutan "what if" yang selama ini ada di kepalaku. 

Aku pun berterima kasih kepada banyak orang yang kutemui selama perjalanan yang kuanggap seperti sosok guru buatku karena semakin lama aku semakin mengerti bahwa kita tidak boleh terlalu cepat men-judge sesuatu tanpa pernah tau kisah seseorang di balik itu semua.

1 komentar:

  1. OPPO POKER BONUS NEW MEMBER 20.000!!!
    CHAT SKRG JUGA DI LIVECHAT TER-RAMAH DAN TERPERCAYA OPPO POKER!

    BalasHapus