Kamis, 27 Desember 2018

Ekspektasi

12/27/2018 05:59:00 AM 13 Comments


    

Mari sejenak menghela napas di penghujung tahun 2018 ini untuk mengingat kembali berbagai peristiwa yang sudah kalian lewati selama setahun belakangan. Ada berbagai alasan mengapa pada akhirnya kalian harus menjalani kehidupan yang entah saat ini suka atau tidak suka harus menjadi bagian dari sebuah cerita perjalanan. Mari sekadar untuk kembali menghitung mundur di detik – detik pergantian tahun, mungkin beberapa dari kita dengan semangatnya akan merancang berbagai resolusi yang ingin dicapai dengan harapan tiada aral melintang. Tetapi bagaiamana ketika di tengah jalan, kita dihadapkan pada sebuah permasalahan yang menuntut kita untuk memutar haluan atau jika ingin dipaksakan hanyalah kesia – siaan yang akan kita peroleh. Perubahan yang mendadak tidak akan pernah membuat kita siap. Namun justru pada bagian ketika ada masalah yang menghadang, sebuah proses pendewasaan diri kita diuji kembali. 

Ekspektasi yang begitu tinggi, harapan yang sudah dipupuk sedemikian rupa maupun doa yang terus dirapal perlahan bisa saja menjadi sebuah duka. Tetapi namanya manusia memang suka sekali berandai – andai sampai lupa diri. Padahal jika kita mau berbenah dengan seksama meminimalisir ekspektasi yang terlalu tinggi mungkin batin akan jauh lebih siap. Terkadang ekspektasi pun ga melulu datang dari diri sendiri karena bisa saja datang dari orang – orang terdekat. Mungkin secara nggak sadar kerap kali kita mendapat komentar dari kerabat kita seperti “Masa gini aja ga bisa sih?” atau justru kita yang melontarkan ucapan seperti itu dan lupa bahwa bisa saja itu pengalaman seseorang dalam memahami sesuatu untuk pertama kali sehingga membutuhkan bantuan kita.



Selain itu hidup sebagai makhluk sosial kadang juga membuat kita terlalu cepat menghakimi pilihan – pilihan hidup seseorang. Adanya sebuah “standar” yang secara tak tertulis yang bisa saja membuat orang lain tertekan dan membuat mereka tidak menjadi dirinya sendiri. Mungkin yang juga membuat gusar pun jika kita ternyata tidak bisa memenuhi ekspetasi orang – orang terkasih yang berharap banyak pada kita. Lalu timbul perasaan bersalah, tidak enak hati atau bahkan yang paling parah menyebabkan sebuah depresi. Jangan sampai perasaan ini dibiarkan berlarut – larut dan membuat kita malah jadi dipenuhi oleh pemikiran – pemikiran yang negatif.

Ya, semoga kita bisa terus belajar untuk mengelola perasaan diri sendiri dan juga harapan kita pada orang lain. Kita juga harus ingat bahwa segala hal itu membutuhkan proses dan baik buruknya sesuatu itu pasti ada hal yang bisa kita ambil hikmahnya. Teruslah memiliki ekspektasi yang positif sehingga keriangan pun akan selalu menjadi inspirasi positif kita dalam berkarya.

Minggu, 02 September 2018

Bapak.

9/02/2018 11:20:00 PM 7 Comments
Sepuluh tahun hampir berlalu sejak tanggal 10 November 2008. Pagi itu gue masih ingat akan suasana rumah yang mendadak chaos karena tiba - tiba bapak sudah kesulitan bernapas. Bapak ga pernah bilang kalau beliau ternyata punya sakit jantung dan baru ketahuan setelah dibawa ke rumah sakit untuk terakhir kalinya. Saat itu gue masih makan sarapan pagi bareng sama adek gue. Kebetulan Senin itu gue kebagian masuk sekolah di jam siang bergantian dengan senior - senor gue di SMA karena keadaan sekolah yang sedang di renovasi. Jadi gue bisa ngelihat dengan jelas gimana mama yang tiba - tiba panik dan langsung nyuruh om gue untuk bawa bapak ke rumah sakit. Hati gue mendadak sakit dan gue bingung harus berbuat apa ngeliat bapak yang tiba - tiba kehilangan kesadaran. Akhirnya bapak kemudian dibawa ke rumah sakit dan sempat jatuh dari gendongan om gue di pintu rumah bagian depan. Saat itu firasat gue makin ga enak dan banyak pikiran negatif di kepala yang bersliweran.

Mungkin sekitar 1 jam kemudian mama nelpon ke rumah dan yang ngangkat mbak pembantu. Mbak itu langsung meluk gue dan bilang "Tari, jangan nakal ya. Jagain adek - adeknya". Saat itu gue langsung nangis kejer dan seakan poros dunia terhenti di waktu itu. Ga lama ada tetangga yang denger dan sempat bingung tiba - tiba ada kerusuhana apa di rumah gue karena gue nangis tersedu - sedu. Gue dengan masih terbata - bata pun bilang "Bu, bapaknya Tari udah nggak ada. Tari bakal beda kayak anak - anak lain". Lalu si ibu - ibu tetangga gue itu yang gue lupa siapa namanya langsung ngabarin tetangga yang lain dan 30 menit kemudian gue denger pengumuman di TOA masjid kalau bapak udah ga ada. Kalau ditanya rasanya kayak gimana ya gue bisa bilang saat itu gue kayak ga nginjek tanah dan melayang. Gue juga masih ingat gimana gue menahan tangis pas nyium pipi almarhum sebelum dikafanin. Wajahnya seolah tersenyum biarpun gue lihat bapak sudah terbujur kaku.

Rasanya bangkit dari kehilangan emang ga pernah gampang. Ada masa dimana gue nangis hampir tiap malem sambil pake baju kerja beliau dan nutup diri di kamar biar mama dan adek - adek gue ga tau. Tapi pelan - pelan gue selalu belajar untuk ikhlas melepas kepergian beliau. Gue juga mulai diskusi dan saling menguatkan sama adek - adek gue biar mereka ga ikutan sedih karena gue merasa bertanggung jawab sebagai anak sulung. Meskipun saat ini, alhamdulillah gue udah punya papa sambung lagi yang sama baiknya seperti bapak gue. Sampai sekarang gue ga akan lupa cara almarhum ngedidik gue dulu semasa beliau hidup untuk jadi orang yang peka sama sekitar dengan ikut kegiatan volunteering, kerja keras dan respect sama orang dari latar belakang apapun.

Mungkin dari atas sana, almarhum bapak bisa ngeliat gue yang sedang berjuang untuk merajut mimpi - mimpinya, bahagiain papa sama mama, dan bisa jadi contoh yang baik untuk adek - adek gue.  Ya walaupun kadang gue masih akan tetap cengeng kalau tiba - tiba kangen sama beliau dan hanya bisa kirim doa dari jauh.

Gue kadang kangen momen - momen saat gue masih sekolah dulu diantar jemput sama beliau, makan bakso bareng dan ngobrol selama di jalan. Bapak juga ga pernah capek nanggepin pertanyaan apapun soal hal - hal yang ga gue paham tentang hal - hal yang terjadi di sekitar hidup kita.  Dulu gue juga ga terlalu suka nonton tayangan berita karena menurut gue itu membosankan. Tapi sekarang tiap gue nonton berita di tv atau youtube, gue kadang kangen untuk diskusi bareng sama beliau.

Ah, gue ga sadar kan lagi - lagi mbrebes mili (meneteskan air mata) kalau ingat beliau yang dulu sering ngajak gue jalan - jalan atau main badminton bareng. Makanya gue akan bisa sangat mellow kalau ngeliat anak kecil yang deket banget sama bapaknya. Yang tenang ya pak disana, nanti kalau Tari pulang ke Lampung pasti Tari akan ziarah ke makam bapak :)


Melbourne, 3 September 2018

Selasa, 03 April 2018

Wominjeka!

4/03/2018 04:11:00 AM 5 Comments
Ada yang pernah dengar istilah Wominjeka? Ini merupakan ucapan selamat datang yang berasal dari bahasa Woiwurung sebagai bagian dari suku asli negara Australia yakni suku Aborigin dan kalian bisa cari tahu hal tersebut di sini. Ketika awal memasuki masa orientasi kampus, aku pun juga disambut dengan kegiatan welcoming orientation student bertajuk wominjeka. Tak terasa hampir 2 bulan aku menjalani perjalanan babak baru dalam hidupku sebagai mahasiswa Master of Education in Digital Learning di Monash University, Australia. Campur aduk rasanya mengingat perjuangan yang telah aku lakukan sepanjang 2 tahun terakhir ketika memutuskan menjadi seorang scholarship hunter
Wominjeka Pathway

Di awal tahun 2016, aku pernah menulis sebuah catatan pada dream board yang aku tempel di kamarku bahwa aku ingin tinggal selama kurang lebih 1 – 2 tahun di sebuah negara asing dan menjadi seorang minoritas. Muncul sebersit keinginan untuk memandang dunia dari perspektif yang lain dan tentunya hal itu akan membuatku menjadi lebih bersyukur dari sebelumnya. Saat berada di sini,  terkadang muncul rasa rindu ketika sudah tiba waktu sholat namun tidak ada suara adzan berkumandang yang bersahut – sahutan. Hal ini tentunya berbeda jauh saat tengah berada di tanah air dimana kita akan dengan mudahnya menemukan masjid untuk menunaikan ibadah. Untungnya saat berada di kampus, aku bisa menemukan tempat untuk sholat di gedung Religious Center.
Religious Center Building
Selain itu, minggu – minggu awal kedatangan pun aku juga harus membiasakan diri dengan perbedaan jam dengan Indonesia dan tentunya cuaca. Banyak yang bilang bahwa ketika kita berada di Melbourne, kita akan merasakan 4 cuaca sekaligus dalam sehari dan itu ternyata ga bohong! Sering banget aku udah cukup pede pergi ke kampus dan ga bawa jaket karena lihat ramalan cuaca yang cenderung panas tapi ternyata begitu selesai perkuliahan di jam 8 malam tiba – tiba suhu langsung drop dan baru sedikit menyesal kenapa ga bawa jaket untuk menghalau hawa dingin.
Big Screen with Cafetaria Spot
Nah, kalau untuk sistem belajar sendiri pastinya beda banget, mungkin dulu ketika S1 aku bisa dibilang sebagai mahasiswa kura – kura (kuliah rapat – kuliah rapat) dan belajar tuh biasanya sistem kebut semalam tapi itu ga berlaku buatku disini. Aku dituntut untuk baca materi terlebih dahulu dan belajar secara mandiri karena dosen biasanya akan memeberi materi di online learning platform yang bernama MOODLE dan setelah itu akan ada beberapa learning sources lainnya seperti reading materials, video maupun tugas yang sesuai dengan subjek mata kuliah yang tengah kita ambil. Jadi ketika kelas berlangsung akan lebih banyak diskusi dengan dosen maupun teman – teman kita yang lain.  Sementara, ketika mencari tempat belajar di luar ruang kelas yang cukup nyaman akan ada banyak sekali pilihan, kita bisa belajar di perpustakaan, Grad Hub (ruangan belajar khusus mahasiswa master yang disediakan dari Monash), MPA (Monash Post Graduate Association) Lounge atau sekadar duduk glosoran di taman. Tetapi ruangan ini bakal penuh ketika menjelang deadline submit tugas jadi mesti cepet – cepetan deh.
One of the Library in Monash
Sementara untuk urusan makan dan jajan sehari – hari, aku lebih sering masak karena bisa menghemat biaya. Buat aku yang ga terlalu bisa masak, awal – awal pasti agak kesulitan tapi tenyata untuk mencari bumbu Indonesia dan Asia di Melbourne itu ga sulit. Jadi ketika kangen masakan rumah kita bisa langsung masak untuk ngobatin rasa rindu. Oh iya,  perbedaan harga yang jauh juga bisa bikin kita banyak mengeluarkan biaya kalau terlalu sering makan di luar. Untuk sehari – hari, sekali makan di luar itu biayanya 10 – 15 AUD, bayangkan kalau tiap hari kita harus makan setidaknya dua sampai tiga kali. Untuk menyiasati ini. ketika pergi ke kampus pun aku bawa bekal. Nah, asiknya juga ada fasilitas student kitchen yang ada microwavenya kalau kita ingin menghangatkan makanan. Untuk air mineral pun ada fasilitas tap water di area kampus jadi  kita cukup bawa botol minum aja untuk isi ulang.
Learning and Teaching Building

Perjalananku di negara ini tentunya masih akan panjang dan aku sangat bersyukur bisa merealisasikan satu per satu dari mimpiku. Aku pun semakin bersemangat ketika mengingat di kemudian hari akan banyak cerita yang aku ukir di negara ini bersama dengan kisah dan teman – teman yang baru. Kedepannya aku akan banyak cerita juga tentang kisahku di kampus ini yang mungkin bisa jadi inspirasi juga buat kalian :)

Sabtu, 20 Januari 2018

Menjadi Gelas Setengah Penuh

1/20/2018 01:36:00 AM 5 Comments
Perjalanan memulai tahun 2018 ini aku buka dengan kembali mengikuti kegiatan RK Mentee 2018 (Hah? Ikutan lagi?). Iya, jadi setelah tahun lalu aku mendapat kesempatan untuk bisa mengikuti serangkaian kegiatan Living The Experience (LTE) kemudian tahun ini aku bisa merasakan program yang sama. Kali ini aku bukan lagi sebagai peserta namun panitia tambahan. Hal baiknya adalah aku jadi bisa mengikuti sesi yang disampaikan oleh pembicara. Saat datang ke Rumah Perubahan, aku diminta untuk memperkenalkan diri kepada peserta kegiatan tahun ini dan aku pun memberi sedikit nasihat bahwa jadilah pribadi dengan komposisi seperti gelas kosong sehingga tidak merasa cepat puas dan sombong atas segala pencapaian yang ada. Maksudnya gimana tuh? Seperti yang sudah – sudah, para peserta program ini dijaring dari ribuan pendaftar dan memiliki background pengalaman kepempinan yang baik seperti aktivis kampus atau aktif di kegiatan sosial. Tetapi, ada baiknya para peserta bisa belajar dari satu sama lain dan menyerap berbagai macam informasi baru.



Setelah proses perkenalan dengan peserta, aku pun kemudian berbincang dengan teman – teman mentee di Rumah Perubahan. Waktu itu, Mas Enje (RK Mentee 2016) memberiku sedikit masukan akan filosofi sebuah gelas kosong menjadi sebuah gelas setengah penuh. Dengan menjadi sosok seperti ini, kita akan mengkaji dan menggali informasi yang baru kita dapat dengan pengetahuan yang sudah kita miliki. Sehingga, kita akan membiarkan otak kita untuk berproses lebih dalam dengan bekal ilmu yang telah kita punya.



Dengan bekal pengalaman yang sudah aku miliki, aku jadi mencerna lebih dalam berbagai kegiatan yang ada pada Living The Experience 2018. Beberapa perbedaan konsep acara yang aku temui justru malah mempertajam pola pikirku untuk nantinya mempersiapkan diri menjadi mahasiswa program master. Jujur, ada sedikit rasa deg – degan ketika harus berangkat untuk memulai sekolah lagi dengan tempat, kultur, bahasa maupun lingkungan yang baru di benua sebrang. Hal lainnya yang bisa aku siapkan adalah menggali insight dengan berbincang seputar dunia pendidikan dan teknologi bersama beberapa orang yang aku temui di Rumah Perubahan kemarin termasuk Prof. Rhenald Kasali dan Bunda Elisa Kasali. Okey, rasanya sekarang aku udah siap untuk memulai pengalaman baru dan penuh tantangan pastinya di negeri Kangguru :D




Sabtu, 23 Desember 2017

Quarter Life Crisis

12/23/2017 03:41:00 AM 7 Comments
Hari – hari menjelang pergantian tahun biasanya aku manfaatkan sebagai waktu untuk refleksi diri. Salah satu pelajaran penting yang aku dapatkan sepanjang tahun ini adalah bagaimana aku bisa menerima diriku apa adanya tanpa membanding – bandingkan dengan orang lain. Sangat mudah ketika kita merasa tidak pernah puas, kurang di sisi ini atau tertinggal dibanding yang lainnya. Saat melihat teman – teman sebaya sudah mencapai posisi di perusahaan X, sementara di lain sisi si A yang kemudian menikah atau si B yang sudah punya anak terkadang membuat batin kita tidak siap. Ya, perubahan itu nyata. Kita yang tidak siap pun kerap uring –uringan karena aku sendiri pun merasakan hal yang sama. 

Aku butuh waktu untuk memahami diriku sendiri di tengah kebingungan yang tidak berujung ini. Beberapa orang pun berujar aku mulai mengalami quarter life crisis syndrome. Wah, apaan tuh? Semacam penyakit kah? Nah, jadi ketika mulai memasuki usia seperempat abad biasanya orang akan mulai memikirkan pijakan selanjutnya dalam menentukan keputusan penting di hidupnya saat rentang usia ini. Mungkin kamu bisa membaca artikel ini untuk tau juga apa gejala – gejalanya.

Ada masa dalam hidup ketika kita seperti hilang arah dan serba salah dalam melakukan sesuatu. Itu kerap terjadi ketika kita belum merasa yakin dengan pilihan kita sendiri. Kita seperti kehilangan makna kehidupan dan menjalankan segala sesuatu dengan serba terpaksa. Bahkan untuk bangun pagi pun rasanya malas karena tau kita akan melakukan sesuatu yang sia – sia. Aku pernah ada di posisi ini dan sempat membuatku enggan untuk keluar menyapa dunia. Aku termasuk orang yang berkepribadian extrovert dan sangat aneh rasanya ketika aku jadi kayak ngehindar dari temen - temenku. Padahal, aku sangat suka ketika bisa menghabiskan waktu untuk brainstorming atau mengerjakan suatu project. Simply because I gain an energy from meeting people. Sampai akhirnya aku sadar bahwa semua ini adalah suatu proses pendewasaan yang akan dialami oleh semua orang juga. Mungkin beberapa tips ini bisa membantu kamu melewati fase krusial dalam transisi hidup menuju level dewasa :)

1. Mulailah menulis jurnal pribadi
Menulis buku harian? Why not? :D Hal ini sangat membantu aku untuk meng-capture berbagai momen dalam hidupku dan membuatku optimis bahwa hari esok akan jauh lebih baik dari hari ini. Menulis jurnal pribadi atau catatan harian juga bisa melatih daya ingat dan melatih kreativitas.



2. Melakukan dialog dengan diri sendiri
Ini terdengar seperti ngomong sendiri ya? Tapi aku sering melakukan ini jika aku benar – benar lagi pengen banget dapetin sesuatu. Biasanya aku akan ngomong di depan kaca dan membayangkan kalau hal tersebut sudah benar – benar terjadi. Afirmasi positif yang kita tanamkan di otak bisa membangkitkan semangat loh apalagi ketika kita sudah benar – benar memvisualisasikan hal itu secara detail.

3. Lakukan sesuatu di luar kebiasaan
Ini maksudnya adalah memberi ruang bagi diri kita untuk mengeksplorasi hal – hal baru. Jika biasanya kita kemana – mana menggunakan kendaraan pribadi, coba deh sekali – kali pakai kendaraan umum dan juga disertai berjalan kaki. Atau jika biasanya kita suka memakai baju warna gelap maka ga ada salahnya kita juga pakai warna – warna ceria. Kita jadi bisa melakukan eksperimen untuk diri kita sendiri dan siapa tau ternyata itu juga pas untuk keseharian kita.

4. Melihat dunia lebih luas dengan traveling
Jika sudah benar – benar stress ada baiknya kita rehat sejenak dan mulai pergi untuk berlibur. Sekarang siapa sih yang ga suka traveling? Apalagi sekarang kegiatan ini udah umum dilakukan banyak orang. Tapi coba deh kali ini ketika pergi melancong, posisikan dirimu bukan sebagai seorang turis tetapi sebagai seorang traveler. Kamu bakal lebih banyak tau tentang kultur lokal dan ga terjebak dengan wisata – wisata yang mainstream aja. Poin plusnya adalah kamu jadi bisa lebih mingle dengan warga lokal dan bakal ngerasa kayak lagi di “rumah”. Masih bingung perbedaan turis dan traveler? Coba deh kamu bisa baca artikel dari huffingtonpost tentang 21 tanda bahwa kamu traveler sejati!
5. Cari lingkungan yang satu frekuensi
Masa – masa kayak gini tuh penting banget untuk menajamkan pola pikir dengan banyak bertemu orang – orang yang sudah lebih dulu mengalami momen berat seperempat abad. Kita juga bisa bertanya sama orang yang lebih tua dari kita tentang bagaimana mereka melewati fase quarter life crisis ini. Cara lain adalah dengan memberi dukungan untuk teman – teman sebaya kita lainnya sehingga kita tau masalah ini tuh ga kita lewati sendirian.

Jadi jangan takut guys, kalian ga sendirian kok ketika melewati masa krusial kayak gini. Kita juga harus yakin bahwa setiap orang sudah punya jalan hidupnya masing – masing asal tetap mau berusaha terus ketika gagal. Menjadi dewasa itu memang melelahkan tapi bukan berarti kita ga bisa having fun kan? hehe

Sabtu, 16 Desember 2017

10 Tips Yang Bakal Bikin Kamu Enjoy Untuk Memulai Solo Traveling

12/16/2017 02:03:00 AM 8 Comments

Ide untuk menjalani solo traveling sebenarnya sudah terlintas cukup lama. Namun, selalu saja ada rasa takut untuk mencoba pengalaman ini. Pikiran – pikiran seperti akan tersesat atau ketemu orang jahat selalu berputar – putar di kepalaku. Nah, sebenarnya solo traveling itu apa sih? Solo Traveling sendiri merupakan sebuah perjalanan yang dilakukan seorang diri, bisa jadi dalam waktu yang singkat maupun juga lama. Hal menariknya adalah kita bisa jadi lebih mengenal diri kita sendiri dan percaya sama kemampuan kita jadi ga selalu bergantung sama orang lain. Terus gimana dong kalau masih ragu? Nah, kali ini aku mau sedikit berbagi tips bagaimana sih untuk memulai sebuah perjalanan seorang diri!

1. Riset Lokasi Wisata Kamu
Hal ini penting buat kalian yang baru mau memulai sebuah perjalanan sendiri. Inget, kamu bukan lagi ikut rombongan tur atau lagi liburan sama genk kamu. Jadi, sudah saatnya untuk mencari tahu tentang destinasi wisata inceran mulai dari tiket, cara pergi kesana atau bahkan penginapan di daerah sekitar situ. Riset ini juga bakal ngebantu banget untuk memperhitungkan berapa budget yang harus dikeluarkan untuk perjalanan tersebut.


2. Atur Waktu Kamu Sebijaksana Mungkin
Kalau biasanya kamu duduk manis dan nunggu arahan untuk pergi ke destinasi wisata selanjutnya tapi kali ini beda cerita. Kamu adalah bos untuk dirimu sendiri jadi berapa banyak tempat wisata yang bakal dikunjungi pun itu kamu yang atur. Atau bahkan kamu mau memilih bersantai agak lama di tempat A dan lebih bentar di tempat B itu juga gak papa loh! Ini saatnya kamu me time sama dirimu sendiri.

3. Pakai pakaian yang nyaman dan ga mencolok
Kebayang dong ngangkat koper yang besar – besar capeknya bakal kayak apa? Daripada mandi keringet dan kucel jadi bikin badmood mending pakai pakaian yang nyaman deh. Kalau aku, ketika perjalanan jauh lebih suka pake kemeja flanel atau t-shirt tangan panjang, celana dan sepatu converse. Ini memungkinkan gerakku lebih nyaman dan anti ribet!


4. Bawa Uang Tunai Sejumlah Yang Kamu Perlukan
Zaman udah canggih gini kamu bisa memanfatkan fasilitas m-banking atau ATM jika benar – benar butuh uang. Kita ga akan pernah tau nantinya bakal kayak gimana pada saat kamu mulai solo traveling makanya ada baiknya untuk tetap mawas diri dalam membawa uang tunai.

5. Bawa buku
Aku kadang suka mati gaya kalau lagi pergi sendiri dan bingung mau ngobrol sama siapa. Nah, biasanya aku bawa buku sebagai teman di perjalanan kalau kebetulan emang ga nemu temen ngobrol yang asyik.

source: newyorksightseeingtours
6. Bawa kunci gembok tambahan
Jadi solo traveling itu kadang ga selalu enak karena ada kalanya aku harus tidur di bandara atau stasiun. Untuk mengantisipasi ini, kamu bisa kasih gembok tambahan biar ketika kamu tidur kamu ga khawatir sama barang – barang kamu.

7. Belilah Oleh - Oleh Secukupnya
Kalau biasanya kamu suka kalap beli oleh – oleh ketika berpergian, nah sudah saatnya kali ini manjain diri kamu untuk benar – benar menikmati perjalanan itu. Cukup beli beberapa oleh – oleh seperlunya dan waktu yang ada bisa kamu gunain untuk hal lain daripada sibuk milih souvenir.

8. Ramah Tapi Tetap Waspada
Buat seorang solo traveler sudah pasti akan kelihatan aneh ketika mengunjungi suatu destinasi wisata yang rame tapi kamu malah sendirian semengtara yang lain bareng sama genknya. Nah, ini saatnya kamu memberanikan diri untuk sekedar menyapa. Syukur - syukur kamu diajak gabung atau malah dapet partner traveling bareng. Tapi tetep harus sopan yah dan jangan SKSD! Dulu, aku juga tipe orang yang cuek banget kalau ketemu orang baru tapi sekarang aku berusaha untuk membuka obrolan duluan. Justru banyak banget hal yang kemudian aku pelajari juga dari orang yang baru aku temui. Ketika bingung harus ambil foto juga kamu jadi bisa minta bantuan orang yang kamu temui di perjalanan.

9. Jangan panik
Ketika ada sesuatu yang terjadi ga sesuai dengan ekspektasi kamu, cobalah jangan panik dan tetap tenang. Ketinggalan pesawat? Dicopet di bus? Atau ketemu orang super rese di kereta? Itu adalah beberapa contoh kejadian ga enak ketika kita pergi sendiri. Hal yang biasanya aku lakukan adalah mencoba tenang biar bisa berpikir jernih karena dengan marah – marah ga akan menyelesaikan masalah. Makanya penting juga untuk buat salinan kartu identitas kayak KTP, Paspor, SIM atau dokumen penting lainnya. Simpan juga beberapa nomor penting kayak kantor polisi atau rumah sakit terdekat jadi kamu lebih ngerasa aman.

10. Saatnya Memulai Perjalananmu Sendiri
Nah, kalau dari tadi masih mikir bagaiamana ya atau aduh aku bisa ga ya? Udah deh ini saatnya kamu keluar dari zona nyaman dan temukan hal baru. Solo Traveling itu ga semenakutkan yang kalian pikirkan kok. Kamu juga ga harus pusing berdebat sama temanmu untuk menentukan enakan makan atau belanja dulu. Kamu juga bebas mau pergi ke tempat yang sebelumnya dilarang sama pasangan kamu misalnya. Atau kamu ga harus izin sama orang tua kalau ternyata terlambat pulang lebih dari jam 10 malem. Jadi sudah saatnya memulai cerita terbaik versi kamu sendiri :)


Sabtu, 09 Desember 2017

Perempuan, Impian dan Beasiswa

12/09/2017 08:42:00 AM 20 Comments
Kita tidak akan pernah tau akan berjenis kelamin apa ketika dilahirkan. Kita hanyalah segumpalan daging yang kemudian ditiupkan ruh menjadi seorang manusia. Terlahir sebagai seorang perempuan dan tumbuh menjadi dewasa kemudian membuatku kerap bertanya – tanya “kodrat” seperti apa yang seharusnya dijalani seorang wanita agar predikat menjadi “wanita seutuhnya” berhak disandang olehku kelak. Aku masih ingat ketika aku kecil dulu, aku tumbuh menjadi seorang anak yang bisa dibilang cukup tomboy. Potongan rambut yang agak pendek bahkan tas sekolah yang lebih banyak bergambar robot daripada barbie. Tapi aku tetap masih lebih senang main masak – masakan dan juga main karet dibanding bermain kelereng atau tamiya. Banyak anak kecil yang bermimpi untuk segera menjadi orang dewasa dan aku salah satunya kala itu. Aku kemudian bertanya – tanya seperti apa ya rasanya menjadi wanita dewasa.

Memasuki awal usia 20 tahun yang kata orang sebagai awal dari perjalanan menjadi orang dewasa telah banyak mengubah pola pikirku. Aku tak ingin impianku hanya menguap begitu saja tanpa sebuah usaha. Aku yang kemudian berhasil menggapai impianku untuk bisa pergi keluar negeri dengan melakukan sebuah misi sosial menjadi seorang teacher volunteer di pinggiran Kota Guangzhou, Mainland of China kemudian menemukan sebuah makna bahwa aku bisa belajar dari sebuah perjalanan.



Jiwa penuh kebebasan dan haus akan tantangan juga membawa langkah kakiku untuk bertualang bersama beberapa orang yang baru aku kenal disana untuk melihat kemegahan Great Wall di Badaling. Atau rasa kegirangan sekaligus takjub untuk menyentuh salju pertama kali di perjalanan pulang dari Temple of Heaven. Tak lupa aku juga senantiasa bersyukur kepada Tuhan karena sudah diberikan kesempatan untuk menjadi seorang minoritas di negara dengan populasi terbanyak di dunia ini.

Sepulang dari sana ada perasaan gamang akan sebuah proses transformasi besar dalam hidupku. Aku tak ingin lulus cepat namun masih belum mengerti akan jadi apa di kehidupan setelah lulus kelak. "Alangkah mengerikannya menjadi tua dengan kenangan masa muda yang hanya berisi kemacetan jalan, ketakutan datang terlambat ke kantor, tugas-tugas rutin yang tidak menggugah semangat, dan kehidupan seperti mesin, yang hanya akan berakhir dengan pensiun tidak seberapa” (Menjadi Tua di Jakarta – Seno Gumira Ajidarma). Oke, aku putuskan mundur kuliah satu semester sambil gabung di kegiatan NGO yang juga jadi turning point untuk rencana lanjut di S2 sehingga aku sudah tahu kemana pijakan kakiku ketika kerabat bertanya aku hendak jadi apa.



Ternyata setelah dijalani, banyak orang yang mencemooh pilihan hidup yang aku ambil. Beberapa karib dekatku bahkan menakut – nakuti aku untuk tidak usah melanjutkan sekolah master karena katanya nanti kalau terlalu pintar lelaki banyak yang tidak mau dan susah cari jodoh. Kalau almarhum bapak masih hidup rasanya ingin aku curhat panjang lebar tentang kekesalanku waktu itu. Namun yang bisa aku lakukan hanyalah duduk di depan makam sambil tersedu – sedu setelah izin “Pak, Tari boleh nangis ya? Tari udah capek dengerin kata orang – orang”. Untung mamaku dengan siaga selalu mendukung pilihanku untuk lanjut sekolah daripada sibuk bertanya minta mantu. Biarpun pernah juga aku berdebat ketika mengutarakan niatku untuk lanjut sekolah di luar negeri.

Kalau dengar cerita mama bagaimana dulu bapak mendukung mama habis – habisan ketika beliau mau lanjut S2, seketika aku menjadi iri sekaligus senang. Betapa beruntungnya mama bisa ketemu bapak dan juga bapak yang dulu bisa dapet kembang desa (ini sih kata mama). Tapi sejenak aku berpikir, udahlah kalau menggerutu atau nangis doang ya gak akan ada solusinya. Setelah banyak pertimbangan, aku minta izin untuk pergi ke Kampung Inggris Pare Kediri untuk belajar sekaligus mengajar disana. Lagi – lagi aku mendengar ada saja orang nyinyirin pilihan hidupku. Katanya disana gajinya kecil lah, jauh banget di desa lah, ngabis – ngabisin duit lah. Hayati lelah kalau dengerin omongan netizen mah.


Setelah banyak bersemedi di Gunung Bromo dan Gunung Kelud (becanda loh ya aku cuman foto – foto doang) akhirnya aku bulatkan tekad untuk medaftar beasiswa aja sepanjang 2017 dan nggak daftar pekerjaan di perusahaan gitu. Beasiswa pertama yang aku coba peruntungannya adalah NZAS (New Zealand ASEAN Scholarship dan hasilnya adalah gagal total bahkan dipanggil wawancara pun enggak. Kemudian coba lagi di AAS (Australia Awards Scholarship) pun hasilnya masih nihil. Aku pun belajar dari kesalahan untuk lebih banyak memperbaiki kualitas essaiku pada saat aku ingin coba beasiswa lagi. Lalu, beasiswa ketiga yang aku coba adalah BPI (Beasiswa Pendidikan Indonesia) dari LPDP. Kali ini aku nggak mau kecolongan lagi, maka aku sampai nyebar essaiku ke kurang lebih 20 orang dan minus kacamataku sampe nambah karena nongkrong depan laptop mulu. Aku meminta berbagai masukan dari para awardee (penerima beasiswa) dan beberapa teman – temanku yang emang jago dalam dunia tulis menulis buat kasih aku kritik dan saran. Alhamdulillah, Allah swt. emang baik banget sama aku karena kali ini aku bisa lolos menjadi penerima beasiswa yang cukup banyak peminatnya ini. Bahkan sebelum aku submit dan selama persiapan LPDP pun aku sampe minta izin mama kalau aku menghabiskan waktu lebaran Idul Fitri di kota kelahiran almarhum bapak di Jogja biar aku bisa ngerasa lebih tenang dan fokus. Untungnya mama kasih izin, jadi aku malah punya cerita baru lebaran tahun 2017 ini yang kalau diingat ya cukup pedih harus pisah sama mama di Lampung.



Menurutku jadi dewasa itu rada njlimet ya. Ketika kumpul keluarga yang ditanya udah nikah apa belum atau kapan mau nyusul tiap ada yang abis punya momongan. Waduh dikira nyari pasangan kayak beli gorengan apa yak. Aku pernah baca gitu tapi dimana ya lupa kalau memilih pasangan hidup itu akan menentukan masa depan nantinya kayak apa. Ya emang sih ga ada pasangan yang sempurna banget gitu. Tapi setidaknya lebih baik cari pasangan yang satu frekuensi deh, biar kalau ngobrol seru dan ga keabisan bahan obrolan. Daripada yang sedari awal trying so hard buat jadi pasangan ala ala #relationshipgoal gitu ternyata hanya kefanaan ala social media aja. Menurutku yang keren adalah ketika kita sudah sama – sama berniat memantaskan diri dan juga saling dukung cita – cita luhur dari pasangan kita. Ga melulu cewek kudu di dapur, kan bisa juga cowok bantu urusan domestik dan nyuapin anak. Dulu bapakku juga ga malu loh nyuapin aku pas masih bocah dan ngajak aku main sama temen – temennya. Ah, jadi kangen kan.